Paradigma Mitologi dan Kosmologi adalah paradigma yang berhubungan dengan agama/kepercayaan/kosmos.
Menurut Anton Bakker dalam bukunya „Kosmolgi & Ekologi – Filsafat
tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga (1995) mengatakan : “Kosmologi menyelidiki
dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya. Kosmologi bertitik pangkal
pada pengalaman mengenai gejala-gejala dan data-data. Akan tetapi gejala-gejala
dan data-data itu tidak ditangkap dalam kekhususannya, tetapi langsung dipahami
menurut intinya dan menurut tempatnya dalam keseluruhan dunia”. Sedangkan YB.
Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (1988) : “Segi mitos dan keagamaan
menyangkut ke-ADA-an manusia atau semesta dari dasar-dasarnya yang paling akar,
paling menentukan, paling sejati”.
2.
Paradigma Estetika
Paradigma estetika adalah paradigma keindahan yang biasanya berdasarkan pada keseimbangan dan keselarasan di antara elemen-elemen pembentuk arsitektur. Estetika pada awalnya
merupakan salah satu cabang ilmu filsafat, tetapi dalam perkembangan kemudian
membuat estetika tidak lagi hanya bercorak filsafat tetapi sudah berkembang
lebih luas. Pendapat yang sangat berpengaruh namun saling bertentangan perihal
pengungkapan keindahan adalah pandangan dari sudut teori obyektif dan teori
subyektif. Teori Obyektif berpendapat bahwa keindahan adalah sifat (kualitas)
yang memang telah melekat pada bendanya (yang disebut) yang merupakan obyek.
Ciri yang memberi keindahan itu adalah perimbangan antara bagian-bagian pada
benda tersebut, sehingga asas-asas tertentu mengenai bentuk dapat terpenuhi.
Teori Subyektif mengemukakan bahwa keindahan itu hanyalah tanggapan perasaan
dalam diri seseorang yang mengamati benda itu. Jadi kesimpulannya tergantung
pada penyerapan/persepsi pengamat yang menyatakan benda
yang dimaksud itu indah atau tidak. Bangsa Yunani misalnya, sangat peka
terhadap keindahan obyektif seperti terlihat pada karya-karya zaman Yunani
Kuno.
3.
Paradigma Sosial (Human Science)
Paradigma sosial adalah hasil interaksi atau adapatasi manusia dengan lingkungannya (alam dan lingkungan sosial). Manusia seperti diketahui
termasuk mahluk sosial. Manusia tidak dapat
selamat dengan hidup menyendiri. Dari lahir hingga mulai belajar, lingkungan
yang dihadapinya adalah lingkungan keluarga terutama ibu
dan ayahnya yang disebut keluarga batin. Kemudian membentuk masyarakat.
Demikianpun semakin besar dan tentu saja semakin kompleks. Beberapa cerminan
interaksi sosial yang terwujudkan dalam arsitektur. Semangat kerjasama di dalam
hal ideologi.
4. Paradigma Rasionalis
Paradigma rasionalis adalah paradigma yang menempatkan aka/logika sebagai dasar pemikiran. Paradigma ini berkembang pada jaman arsitektur modern. Rationalist
adalah orang yang menerima penalaran sebagai kekuasaan tertinggi. Dalam dunia
arsitektur, Rationalisme diartikan suatu paradigma dalam arsitektur yang
didasarkan pada hal-hal yang bersifat nalar. Atau dapat dikatakan sebagai suatu
cara untuk mencetuskan ide-ide arsitektur yang didasarkan pada pertimbangan
yang masuk akal. Paradigma Rasionalis tumbuh pada sekitar pertengahan abad XIX
di Eropa, Hal ini merupakan jawaban atas kondisi yang terjadi pada saat itu.
Adapun penyebabnya adalah (a) munculnya revolusi industri yang ditandai dengan
munculnya teknologi konstruksi. (b) meningkatnya kebutuhan rumah tinggal di kota karena pesatnya
arus urbanisasi dan (c) semakin meningkatnya bentuk-bentuk
eklektis dalam karya arsitektur saat itu, yang tidak sesuai dengan perkembangan
teknologi.
5. Paradigma
Kultur
Paradigma kultur adalah paradigma yang berasal dari suatu kebudayaan.
Kegiatan dalam mewujudkan
karya-karya interaksi ruang, makna, komunikasi dan waktu yang berfokus pada
penataan lingkungan. Penyebab penting dalam penataan tersebut adalah bahwa
makna lingkungan didalamnya membantu komunikasi sosial antara orang-orang dengan
lingkungan kepada masyarakat melalui kultur masing-masing. Jadi lingkungan
melalui ruang dan makna mencerminkan pengaturan komunikasi, sebab komunikasi
merupakan faktor penting bersifat temporal dan dapat dianggap pengaturan waktu.
Waktu bisa masa lampau, sekarang dan yang akan datang.
6.
Paradigma Post-Modernism
Pada masa post
modern banyak paradigma yang muncul, sebagian merupakan perkembangan dari paradigma sebelumnya dan ada beberapa yang merupakan paradigma baru yang dipengaruhi oleh situasi politik dan sosial pada masa itu.
Paradigma-paradigma tersebut disebutkan dalam buku "Theoirzing a New
Agenda for Architecture" oleh Kate Nesbitt :
a. Fenomenologis
Fenomenologis adalah paradigma yang berkaitan dengan gagasan filosofis yang berdasarkan fenomena.
b.
Aesthetic of the Sublime
Aesthetic of the sublime adalah paradigma yang menganggap bahwa arsitektur memiliki keindahan sebagai norma atau syarat (Vedler). Arsitektur yang berfungsi dengan baik dan indah adalah arsitektur yang sempurna.
c. Linguistik
Linguistik adalah paradigma yang menganggap bahwa rsitektur memiliki
"Meaning" (yang bisa dibahasakan oleh produk arsitektur) yang berasal dari kebiasaan (Kebudayaan).
d. Marxism
Marxism adalah paradigma yang fokusnya adalah pada hubungan konflik kepentingan dan keinginan antar kelas sosial dengan arsitektur
e. Feminism
Feminism adalah paradigma yang berkaitan dengan gender. Sebuah keritik atas dominasi pria dan menuntut persamaan .
7. Paradigma Environmentalism
Paradigma Environmetalism adalah paradigma yang menjadikan alam sebagai dasar pemikiran. Sebagai contohnya dapat kita lihat pada karya Frank Lyot Wirgth
"falling water" dimana bentuk dari bangunan diselaraskan dengan tebing-tebing dan air terjun.
Sudah sejak lama para teoritisi yang berpengaruh pada arsitektur
menghadirkan pandangan dan konsep-konsep tentang pentingnya menghadirkan
kondisi lingkungan yang sehat, nyaman sebagai tujuan didalam perencanaan
arsitektur.
5. Paradigma
Kultur
Paradigma kultur adalah paradigma yang berasal dari suatu kebudayaan.
Kegiatan dalam mewujudkan
karya-karya interaksi ruang, makna, komunikasi dan waktu yang berfokus pada
penataan lingkungan. Penyebab penting dalam penataan tersebut adalah bahwa
makna lingkungan didalamnya membantu komunikasi sosial antara orang-orang dengan
lingkungan kepada masyarakat melalui kultur masing-masing. Jadi lingkungan
melalui ruang dan makna mencerminkan pengaturan komunikasi, sebab komunikasi
merupakan faktor penting bersifat temporal dan dapat dianggap pengaturan waktu.
Waktu bisa masa lampau, sekarang dan yang akan datang.
6.
Paradigma Post-Modernism
Pada masa post
modern banyak paradigma yang muncul, sebagian merupakan perkembangan dari paradigma sebelumnya dan ada beberapa yang merupakan paradigma baru yang dipengaruhi oleh situasi politik dan sosial pada masa itu.
Paradigma-paradigma tersebut disebutkan dalam buku "Theoirzing a New
Agenda for Architecture" oleh Kate Nesbitt :
a. Fenomenologis
Fenomenologis adalah paradigma yang berkaitan dengan gagasan filosofis yang berdasarkan fenomena.
b.
Aesthetic of the Sublime
Aesthetic of the sublime adalah paradigma yang menganggap bahwa arsitektur memiliki keindahan sebagai norma atau syarat (Vedler). Arsitektur yang berfungsi dengan baik dan indah adalah arsitektur yang sempurna.
c. Linguistik
Linguistik adalah paradigma yang menganggap bahwa rsitektur memiliki
"Meaning" (yang bisa dibahasakan oleh produk arsitektur) yang berasal dari kebiasaan (Kebudayaan).
d. Marxism
Marxism adalah paradigma yang fokusnya adalah pada hubungan konflik kepentingan dan keinginan antar kelas sosial dengan arsitektur
e. Feminism
Feminism adalah paradigma yang berkaitan dengan gender. Sebuah keritik atas dominasi pria dan menuntut persamaan .
7. Paradigma Environmentalism
Paradigma Environmetalism adalah paradigma yang menjadikan alam sebagai dasar pemikiran. Sebagai contohnya dapat kita lihat pada karya Frank Lyot Wirgth
"falling water" dimana bentuk dari bangunan diselaraskan dengan tebing-tebing dan air terjun.
Sudah sejak lama para teoritisi yang berpengaruh pada arsitektur
menghadirkan pandangan dan konsep-konsep tentang pentingnya menghadirkan
kondisi lingkungan yang sehat, nyaman sebagai tujuan didalam perencanaan
arsitektur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar