Rabu, 18 Februari 2015

PARADIGMA DALAM BERTEORI ARSITEKTUR



      Perkembangan perancangan arsitektur sejak era pra-klasik dan sesudahnya mempelihatkan adanya pergeseran dalam essensi paradigmanya yang dapat digunakan sebagai sumber bertema dan berteori dalam arsitektur. Kalau gerakan Modern menolak sejarah arsitektur Eropa, kaum post-modernism justru mau merangkul sejarah. Berbagai teori bermunculan, paradigma-paradigma teoritik menjadi penentu post modernisme, termasuk teori-teori dari luar displin arsitektur. Dengan demikian suatu era baru dalam perjalanan sejarah arsitektur modern telah lahir. Paradigma-paradigma yang ada yaitu:

            1. Paradigma Mitologi dan Kosmologi 

Paradigma Mitologi dan Kosmologi adalah paradigma yang berhubungan dengan agama/kepercayaan/kosmos.
Menurut Anton Bakker dalam bukunya „Kosmolgi & Ekologi – Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga (1995) mengatakan : “Kosmologi menyelidiki dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya. Kosmologi bertitik pangkal pada pengalaman mengenai gejala-gejala dan data-data. Akan tetapi gejala-gejala dan data-data itu tidak ditangkap dalam kekhususannya, tetapi langsung dipahami menurut intinya dan menurut tempatnya dalam keseluruhan dunia”. Sedangkan YB. Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (1988) : “Segi mitos dan keagamaan menyangkut ke-ADA-an manusia atau semesta dari dasar-dasarnya yang paling akar, paling menentukan, paling sejati”.

           2. Paradigma Estetika  

Paradigma estetika adalah paradigma keindahan yang biasanya berdasarkan pada keseimbangan dan keselarasan di antara elemen-elemen pembentuk arsitektur. Estetika pada awalnya merupakan salah satu cabang ilmu filsafat, tetapi dalam perkembangan kemudian membuat estetika tidak lagi hanya bercorak filsafat tetapi sudah berkembang lebih luas. Pendapat yang sangat berpengaruh namun saling bertentangan perihal pengungkapan keindahan adalah pandangan dari sudut teori obyektif dan teori subyektif. Teori Obyektif berpendapat bahwa keindahan adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada bendanya (yang disebut) yang merupakan obyek. Ciri yang memberi keindahan itu adalah perimbangan antara bagian-bagian pada benda tersebut, sehingga asas-asas tertentu mengenai bentuk dapat terpenuhi. Teori Subyektif mengemukakan bahwa keindahan itu hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati benda itu. Jadi kesimpulannya tergantung pada penyerapan/persepsi pengamat yang menyatakan benda yang dimaksud itu indah atau tidak. Bangsa Yunani misalnya, sangat peka terhadap keindahan obyektif seperti terlihat pada karya-karya zaman Yunani Kuno.
 
           3. Paradigma Sosial (Human Science)  

Paradigma sosial adalah hasil interaksi atau adapatasi manusia dengan lingkungannya (alam dan lingkungan sosial).  Manusia seperti diketahui termasuk  mahluk  sosial. Manusia tidak dapat selamat dengan hidup menyendiri. Dari lahir hingga mulai belajar, lingkungan yang dihadapinya adalah lingkungan keluarga terutama ibu dan ayahnya yang disebut keluarga batin. Kemudian membentuk masyarakat. Demikianpun semakin besar dan tentu saja semakin kompleks. Beberapa cerminan interaksi sosial yang terwujudkan dalam arsitektur. Semangat kerjasama di dalam hal ideologi.

           4. Paradigma Rasionalis 

 Paradigma rasionalis adalah paradigma yang menempatkan aka/logika sebagai dasar pemikiran. Paradigma ini berkembang pada jaman arsitektur modern. Rationalist adalah orang yang menerima penalaran sebagai kekuasaan tertinggi. Dalam dunia arsitektur, Rationalisme diartikan suatu paradigma dalam arsitektur yang didasarkan pada hal-hal yang bersifat nalar. Atau dapat dikatakan sebagai suatu cara untuk mencetuskan ide-ide arsitektur yang didasarkan pada pertimbangan yang masuk akal. Paradigma Rasionalis tumbuh pada sekitar pertengahan abad XIX di Eropa, Hal ini merupakan jawaban atas kondisi yang terjadi pada saat itu. Adapun penyebabnya adalah (a) munculnya revolusi industri yang ditandai dengan munculnya teknologi konstruksi. (b) meningkatnya kebutuhan rumah  tinggal di kota   karena pesatnya arus urbanisasi dan (c) semakin meningkatnya bentuk-bentuk eklektis dalam karya arsitektur saat itu, yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi.

       5. Paradigma Kultur

Paradigma kultur adalah paradigma yang berasal dari suatu kebudayaan.
Kegiatan dalam mewujudkan karya-karya interaksi ruang, makna, komunikasi dan waktu yang berfokus pada penataan lingkungan. Penyebab penting dalam penataan tersebut adalah bahwa makna lingkungan didalamnya membantu komunikasi sosial antara orang-orang dengan lingkungan kepada masyarakat melalui kultur masing-masing. Jadi lingkungan melalui ruang dan makna mencerminkan pengaturan komunikasi, sebab komunikasi merupakan faktor penting bersifat temporal dan dapat dianggap pengaturan waktu. Waktu bisa masa lampau, sekarang dan yang akan datang.

      6. Paradigma Post-Modernism  

    Pada masa post modern banyak paradigma yang muncul, sebagian merupakan perkembangan dari paradigma sebelumnya dan ada beberapa yang merupakan paradigma baru yang dipengaruhi oleh situasi politik dan sosial pada masa itu. 
    Paradigma-paradigma tersebut disebutkan dalam buku "Theoirzing a New Agenda for Architecture" oleh Kate Nesbitt :
     a.  Fenomenologis
          Fenomenologis adalah paradigma yang berkaitan dengan gagasan filosofis yang berdasarkan fenomena.
    b.  Aesthetic of the Sublime
         Aesthetic of the sublime adalah paradigma yang menganggap bahwa arsitektur memiliki keindahan sebagai norma atau syarat (Vedler). Arsitektur yang berfungsi dengan baik dan indah adalah arsitektur yang sempurna.
    c.  Linguistik 
Linguistik adalah paradigma yang menganggap bahwa rsitektur memiliki "Meaning" (yang bisa dibahasakan oleh produk arsitektur) yang berasal dari kebiasaan (Kebudayaan).
    d.   Marxism 
 Marxism adalah paradigma yang fokusnya adalah pada hubungan konflik kepentingan dan keinginan  antar kelas sosial dengan arsitektur
    e.  Feminism 
Feminism adalah paradigma yang berkaitan dengan gender. Sebuah keritik atas dominasi pria dan menuntut persamaan . 

        7. Paradigma Environmentalism
 
Paradigma Environmetalism adalah paradigma yang menjadikan alam sebagai dasar pemikiran. Sebagai contohnya dapat kita lihat pada karya Frank Lyot Wirgth "falling water" dimana bentuk dari bangunan diselaraskan dengan tebing-tebing dan air terjun.
   Sudah sejak lama para teoritisi yang berpengaruh pada arsitektur menghadirkan pandangan dan konsep-konsep tentang pentingnya menghadirkan kondisi lingkungan yang sehat, nyaman sebagai tujuan didalam perencanaan arsitektur. 
       5. Paradigma Kultur
Paradigma kultur adalah paradigma yang berasal dari suatu kebudayaan.
Kegiatan dalam mewujudkan karya-karya interaksi ruang, makna, komunikasi dan waktu yang berfokus pada penataan lingkungan. Penyebab penting dalam penataan tersebut adalah bahwa makna lingkungan didalamnya membantu komunikasi sosial antara orang-orang dengan lingkungan kepada masyarakat melalui kultur masing-masing. Jadi lingkungan melalui ruang dan makna mencerminkan pengaturan komunikasi, sebab komunikasi merupakan faktor penting bersifat temporal dan dapat dianggap pengaturan waktu. Waktu bisa masa lampau, sekarang dan yang akan datang.
      6. Paradigma Post-Modernism  
    Pada masa post modern banyak paradigma yang muncul, sebagian merupakan perkembangan dari paradigma sebelumnya dan ada beberapa yang merupakan paradigma baru yang dipengaruhi oleh situasi politik dan sosial pada masa itu. 
    Paradigma-paradigma tersebut disebutkan dalam buku "Theoirzing a New Agenda for Architecture" oleh Kate Nesbitt :
     a.  Fenomenologis
          Fenomenologis adalah paradigma yang berkaitan dengan gagasan filosofis yang berdasarkan fenomena.
    b.  Aesthetic of the Sublime
         Aesthetic of the sublime adalah paradigma yang menganggap bahwa arsitektur memiliki keindahan sebagai norma atau syarat (Vedler). Arsitektur yang berfungsi dengan baik dan indah adalah arsitektur yang sempurna.
    c.  Linguistik 
Linguistik adalah paradigma yang menganggap bahwa rsitektur memiliki "Meaning" (yang bisa dibahasakan oleh produk arsitektur) yang berasal dari kebiasaan (Kebudayaan).
    d.   Marxism 
 Marxism adalah paradigma yang fokusnya adalah pada hubungan konflik kepentingan dan keinginan  antar kelas sosial dengan arsitektur
    e.  Feminism 
Feminism adalah paradigma yang berkaitan dengan gender. Sebuah keritik atas dominasi pria dan menuntut persamaan . 
        7. Paradigma Environmentalism
 
     Paradigma Environmetalism adalah paradigma yang menjadikan alam sebagai dasar pemikiran. Sebagai contohnya dapat kita lihat pada karya Frank Lyot Wirgth "falling water" dimana bentuk dari bangunan diselaraskan dengan tebing-tebing dan air terjun.
   Sudah sejak lama para teoritisi yang berpengaruh pada arsitektur menghadirkan pandangan dan konsep-konsep tentang pentingnya menghadirkan kondisi lingkungan yang sehat, nyaman sebagai tujuan didalam perencanaan arsitektur. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar